Riset yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa selama enam bulan pada tahun 2019, Yogyakarta hanya memiliki 50 hari dengan kualitas udara baik dan 92 hari dengan kualitas udara moderat dan tidak sehat (Nugroho, 2021). Data tersebut memperlihatkan bahwa diperlukan upaya serius untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan beralih ke kendaraan rendah karbon, yaitu sepeda. Penulis memilih topik ini karena penelitian masalah pencemaran udara dalam skope penelitian lingkungan masih terbatas. Melalui tulisan ini, penulis berusaha mengidentifikasi upaya aksi kolektif yang dilakukan oleh komunitas Jogja Lebih Bike (JLB) dalam memerangi pencemaran udara akibat kendaraan bermotor. Identifikasi dilakukan melalui pengamatan terhadap upaya dan dampak aksi kolektif terhadap pencemaran udara di Yogyakarta. JLB menjadi objek penelitian yang menarik untuk diteliti karena komunitas ini tidak hanya bersepeda sebagai kegiatan rekreasional dan olahraga, tetapi juga berlandaskan kepedulian terhadap pencemaran udara[1]. Selain itu, JLB mewadahi aksi-aksi kolektif yang diperlukan untuk menyelamatkan bumi serta menggunakan aksi-aksi yang anti-mainstream dan nirkekerasan dalam mencapai tujuannya.
Wigke Capri
Perubahan iklim merupakan isu serius yang perlu mendapatkan perhatian dan aksi nyata. Salah satu aksi nyata adalah mengurangi penggunaan energi fosil. Dalam penelitian OECD (2022) sebanyak 81% pasokan listrik di Indonesia masih bergantung dengan energi fosil, terutama batu bara. Bahkan, menurut Dadan Kusdiana selaku Jenderal Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM dalam “Webinar Kilang dalam Transisi Energi” yang diselenggarakan pada November 2021, penggunaan energi fosil di Indonesia masih menyentuh angka 88,8% dari total penggunaan energi bauran primer. Penggunaan energi fosil menyebabkan kenaikan emisi gas rumah kaca, sehingga iklim menjadi tidak stabil serta meningkatnya suhu bumi dan permukaan air laut (Pertamina, 2020). Data tersebut menunjukan negara kita, Indonesia masih menggunakan energi fosil dalam skala besar.
Kini, bermain gim tidak dapat dipandang sebelah mata saja. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengubah persepsi masyarakat terhadap gim. Munculnya online video games (OVG) yang acap kali dimainkan oleh anak muda di Indonesia telah mendobrak persepsi negatif bahwa bermain gim hanya membuat anak menjadi kecanduan dan agresif (Cnn Indonesia, 20 Maret 2019; Adit, 21 November 2021). Sebaliknya, munculnya OVG membuat anak dapat bersosialisasi, bahkan dianggap sebagai media baru yang dapat mendorong keterlibatan (Krisna, 10 Juni 2020). Tulisan ini akan menjelaskan pengaruh TIK terhadap gim serta peluang gim sebagai media baru untuk meningkatkan keterlibatan di sektor pendidikan atau yang dikenal dengan istilah gamifikasi.
Perhelatan akbar pemilihan umum 2024 sudah dekat. Jika sebelumnya, aktivitas komunikasi politik memerlukan banyak medium untuk menyampaikan pesan politik, kini media digital bukan hanya sebagai suatu capaian perkembangan. Setidaknya, Penulis menemukan tiga transformasi media digital. Pertama, media digital bekerja sebagai arena pertarungan utama para aktor politik dalam upaya menggalang dukungan suara sebanyak-banyaknya. Kedua, media digital juga menjadi arena pertukaran informasi dan komunikasi politik yang dekat dan bersifat inklusif, mudah diakses masyarakat luas. Untuk itu, penulis melihat aktor politik harus cermat dan giat dalam menembak pasar untuk modal politik utama dalam media digital yaitu mengideologisasi dan menyebarkan visi.
Masyarakat global terus mengalami perubahan dan kerap kali menghasilkan fenomena-fenomena sosial baru. Salah satu hal baru yang tampak menonjol adalah kesadaran dari Generasi Z atau Gen Z mengenai kesehatan mental. Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) pada tahun 2019. Pertama, penelitian tersebut menemukan bahwa Gen Z di Amerika Serikat, secara signifikan, memiliki kemungkinan lebih tinggi dalam melaporkan permasalahan pada kondisi mental mereka, dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Kedua, penelitian tersebut juga menemukan bahwa lebih banyak dari Gen Z, dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, yang melaporkan bahwa mereka telah atau sedang menerima pertolongan profesional untuk kesehatan mental mereka. Kesadaran Gen Z mengenai kesehatan mental ini dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari mereka, baik dalam kehidupan nyata maupun di media sosial. Dalam kaitannya dengan media sosial, hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan sebab Gen Z lahir dan dibesarkan dengan kehadiran internet.
We’ve all heard the saying ‘you are what you eat’, but have you ever considered that the same might be true for the media we consume? From news articles to social media feeds, the content we consume daily can shape our thoughts, beliefs, and even our identities. So, just as we carefully choose our meals to nourish our bodies, perhaps it’s time we start being more intentional about what we feed our minds.
Media plays a significant role in shaping the values and beliefs of its audience, according to many media effect theories. However, the active audience theory rejects this notion, arguing that audiences are not passive recipients of media messages. Rather, they are actively engaged in interpreting and constructing meaning from media content.
Modernisasi kehidupan menuntut manusia untuk selalu melakukan pembangunan dalam rangka peningkatan kualitas kehidupan. Masifikasi pembangunan tidak hanya menimbulkan pengaruh positif, tetapi juga menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan. Salah satu dampak negatif yang bersifat lokal adalah kerusakan alam. Kerusakan alam terjadi akibat pemanfaatan sumber daya alam bersifat eksploitatif. Sementara dampak negatif bersifat global adalah perubahan iklim. Menurut laporan dari World Meteorological Organization (WMO) (2022) mengenai keadaan iklim dunia tahun 2021, suhu permukaan bumi meningkat hingga 0,85°C dibanding suhu rata-rata tahunan periode 1951-1980. Ironisnya, pembangunan manusia tidak saja merusak alam dan meningkatkan resiko perubahan iklim namun dilakukan dengan memarjinalisasi kelompok masyarakat tertentu, termasuk kelompok masyarakat tradisional.
Hutan mangrove kerap dikenal sebagai hutan payau atau hutan bakau. Nama bakau sendiri diambil dari salah satu jenis penyusun mangrove yakni Rhizophora Sp. yang dapat ditemukan di keseluruhan pesisir Indonesia. Jenis tersebut berasosiasi bersama jenis mangrove lainnya antara lain Avicennia Sp., Bruguiera Sp., Sonneratia Sp., serta jenis asosiasi lain membentuk satu kesatuan hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan bagian dari hutan tropis yang berada di kawasan pesisir yang memiliki relasi kuat dengan pasang surut air laut, tingkat ketenangan gelombang laut dan kondisi tanah relatif berlumpur. Selain hidup dalam ekologi laut, hutan mangrove juga dapat ditemukan di muara sungai (estuari) sebagai daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan (ekosistem air payau).
Perubahan iklim merupakan masalah global yang dihadapi semua negara di dunia dan telah mencuri perhatian negara di dunia. Prioritas isu mengenai perubahan iklim menjadi topik menarik dalam melihat hubungan keterikatan manusia-alam dan sebaliknya, akan tetapi kondisi menunjukkan saat ini catur politik di Indonesia bak ibarat pepatah “Jauh panggang dari api” yang artinya jawaban perubahan iklim tidak seperti yang diharapkan dalam kebijakan maupun tindakan. Di Indonesia, perubahan iklim telah dirasakan dengan penurunan produksi dari sektor pertanian yang disebabkan adanya perubahan cuaca, menyusul bencana alam yang disinyalir sebagai inti perubahan iklim atau disebut dengan hidrometeorologi merupakan bencana yang disebabkan oleh cuaca dan lingkungan, hal tersebut berdampak pada kerusakan lingkungan alam yang masif di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan tercatat Januari hingga September 2019 terdapat 98% bencana hidrometeorologi, posisi wilayah yang paling banyak terjadi bencana hidrometeorologi di Tahun 2019 adalah Jawa Tengah dengan angka bencana 692 kejadian (Aziz, 2020).
Transformasi digital tidak hanya menawarkan kesempatan baru untuk kemajuan ekonomi dan sosial, tetapi juga dapat mematikan bagi yang tidak dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dalam industri media, kemudahan yang diberikan transformasi digital memaksa perusahaan media dan jurnalis untuk merubah pola kerja. Tranformasi digital memberikan kemudahan dalam peningkatan produktivitas jurnalis. Namun, dengan alasan kemudahan teknnologi perusahaan media menuntut jurnalis untuk dapat melakukan banyak hal sekaligus dengan upah minimum. Efisiensi tersebut tidak hanya berdampak terhadap jurnalis, tetapi juga terhadap kualitas berita dan audience media.