Universitas Gadjah Mada
  • Article
    • Perubahan Iklim
    • Revolusi Digital
    • Pandemi
    • Brief Article
  • E-Book
  • Siniar
  • Video
  • Agenda
  • Berkontribusi
  • Tentang Megashift
  • Beranda
  • Wigke Capri
  • Wigke Capri
  • page. 3
Arsip:

Wigke Capri

Digital Human in Law Symbollicum: Memahami Hukum dan Simbol dalam Era Digital

brief article Monday, 7 October 2024

Era digital membawa perubahan besar dalam cara kita memahami dan menerapkan hukum, terutama dalam hal simbolisme yang kini semakin abstrak dan terdesentralisasi. Simbol-simbol hukum yang sebelumnya berbentuk fisik dan sangat terikat pada representasi visual, seperti patung Dewi Keadilan atau bangunan pengadilan, mulai bergeser ke arah konsep-konsep digital yang lebih dinamis. Perubahan ini memunculkan sebuah fenomena baru yang dapat disebut sebagai Digital Human in Law Symbolicum, yaitu transformasi simbolisme hukum di era digital. read more

Menjaga Budaya, Menjaga Alam Semesta: Peran Masyarakat Adat dalam Menjaga Keberlanjutan Lingkungan

brief article Monday, 30 September 2024

Intensifikasi pembangunan dewasa ini telah mereduksi lingkungan dan memarginalisasi esensi masyarakat lokal. Masyarakat lokal yang eksistensinya selaras dengan alam membuatnya kian tergerus seiring masifnya deforestasi dan komodifikasi karena pengalihan lahan hijau ke industri ekstraktif maupun berbasis sumber daya alam lainnya. Proliferasi industri ini menambah signifikansi krisis iklim karena kehilangan keseimbangan untuk menampung emisi yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang berlebihan. Padahal, faktanya keberadaan masyarakat lokal atau yang sering kita kenal dengan masyarakat adat justru membantu meminimalisir perubahan iklim yang signifikan (afd.fr, 2023; thegef, 2019). Kehidupan mereka yang selaras dengan alam disinyalir mampu menjaga keberlanjutan lingkungan di masa mendatang. Prinsip sustainability yang mereka jaga dan terapkan tak lain adalah untuk mewariskan alam kepada generasi keturunan mereka di masa  mendatang. read more

Green Job dan Kesetaraan Bagi Perempuan Dalam Green Economy

brief article Tuesday, 17 September 2024

Istilah green economy banyak digunakan dalam satu dekade terakhir seiring meningkatnya kesadaran terhadap climate change atau perubahan iklim. Mulai dari kebakaran hutan hingga cuaca ekstrim terjadi hampir di seluruh dunia akibat perubahan iklim. Dampak dari perubahan iklim tidak hanya mengganggu aktivitas manusia, namun juga membahayakan lingkungan hidup. Oleh karena itu, organisasi internasional seperti United Nation (UN) berusaha mendorong terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs), salah satunya dengan mengkampanyekan green economy. Green economy atau ekonomi hijau merupakan konsep berkelanjutan yang bertujuan pada SDGs. Melalui green economy, semua pihak diharapkan dapat ikut serta dalam pelestarian lingkungan hidup. Berdasarkan United Nation Environment Program (UNEP), green economy diharapkan dapat mendukung peningkatan ekonomi melalui investasi publik maupun swasta. Adapun, aktivitas-aktivitas ekonomi yang terjadi harus mengedepankan prinsip berkelanjutan seperti mengurangi emisi karbon, meningkatan efisiensi energi, mencegah hilangnya keanekaragaman hayati, dan lain sebagainya. Green economy juga diharapkan dapat menciptakan pembangunan yang berkelanjutan untuk menuju perekonomian rendah karbon. read more

Menelusuri Upaya Keterlibatan Komunitas Penggemar K-pop Dalam Menyuarakan Isu Krisis Iklim Melalui Fan Activism dan Kosmopolitanisme

brief article Monday, 9 September 2024

Meningkatnya interaksi lintas batas memunculkan ruang sosial transnasional baru oleh berbagai faktor. Dalam ranah budaya populer, kehadiran kelompok penggemar khususnya di kalangan generasi muda yang menjadi wadah dalam berinteraksi antar individu dengan kesamaan kegemaran dapat menjadi salah satu contohnya. Dengan bantuan kekuatan digital, aktivitas penggemar tidak lagi hanya berkutat pada menulis atau memproduksi konten terkait budaya pop seperti fiksi penggemar atau video remix (Brough & Shresthova, 2012), melainkan saat ini telah banyak bermunculan aksi-aksi sosial mengatasnamakan fandom (istilah untuk grup penggemar) yang diprakarsai oleh generasi muda. Di Indonesia, 16 grup penggemar K-pop pernah melakukan penggalangan dana untuk korban gempa bumi di Sulawesi dan banjir di provinsi Kalimantan Selatan yang berhasil mengumpulkan dana sekitar $100.000 dalam 10 hari (Walden & Salim, 2021). Pada tahun 2020, Penggemar K-pop Indonesia juga mengadakan kampanye online untuk menyoroti deforestasi yang cepat di Papua, dengan membagikan tagar #SavePapuanForest di media sosial dan menjadikannya trending topik di Twitter (Yi, 2021). Menurut (Jenkins, 2013), hal ini disebut sebagai “fan activism”. Fan activism didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan oleh penggemar untuk menangani masalah sosial, sipil maupun politik melalui adanya keterlibatan serta penyebaran strategis akan konten budaya populer (Brough & Shresthova, 2012). read more

Melihat Sejauh Mana Kontribusi & Adaptasi Ecotourism Terhadap Perubahan Iklim

brief article Monday, 2 September 2024

Industri pariwisata berkontribusi terhadap perubahan iklim melalui emisi karbon yang dihasilkan transportasi, konsumsi barang dan jasa seperti makanan dan akomodasi sebesar delapan persen (Lenzen et al, 2018: 523). Selain itu, aktivitas mass tourism memberikan dampak buruk terhadap masyarakat sekitar dan ekosistem karena meninggalkan polusi, sampah dan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan (Is over-tourism the downside of mass tourism, 2018). Pembangunan akomodasi di kawasan alam juga memberikan dampak negatif karena mengambil banyak tanah, sumber daya air, pengelolaan sampah buruk dan menurunnya produktivitas agrikultur (Chong, 2019: 157). Di sisi lain, sektor pariwisata juga rentan terhadap dampak perubahan iklim. Banyak destinasi wisata erat kaitannya dengan lingkungan alam, sementara iklim mempengaruhi sumber daya alam yang menjadi daya tarik pariwisata seperti produktivitas dan keanekaragaman hayati, kondisi cuaca, kualitas dan ketinggian air. Iklim juga dapat mengurangi kunjungan wisata karena membawa penyakit menular, kebakaran hutan, munculnya bakteri atau hama dan bencana alam (UNWTO: 2008: 28). Untuk mengatasi permasalahan tersebut, praktik ecotourism dapat menjadi strategi (Wondirad, 2019: 1048). Tulisan ini mengelaborasi sejauh mana kontribusi dan adaptasi ecotourism terhadap perubahan iklim? read more

Hang the DJ: Refleksi Hambarnya Kencan di Era Digital

brief article Monday, 26 August 2024

Penggunaan aplikasi kencan online untuk mencari jodoh sudah menjadi hal yang lumrah di era digital. Ia menawarkan ekstensi domain bagi mereka yang terlalu sibuk atau bahkan ‘terlalu malu’ untuk menginisiasi sebuah perkenalan. Bagi beberapa orang, pengalaman menggunakan aplikasi ini bak seperti sedang Ikan Mas yang paling proporsional untuk ukuran akuariumnya, atau seperti memilih model baju paling pas di situs belanja online ketika memasukkan kata kunci “dress wanita”. Potret-potret yang ter-swipe kiri atau kanan seolah-olah hanya representasi dari sebuah objek. Tak jarang kita bahkan lupa pada wajah dan nama mereka. read more

How did Indonesia Capital handle disaster during disaster?

brief article Monday, 20 May 2024

Jakarta, the capital city of Indonesia, has been suffered from annual floods due to its geographical and morphological area (Texier, 2008). In early 2021, the government of Jakarta was forced to handle the flood amidst the COVID-19 pandemic, while on the other side, the capital is the highest contributor to positive case numbers nationally (National Covid-19 Task Force, 2021). Even though there has been no scientific calculation on how both risks interact, it is not debatable that the pandemic amplifies the impact generated by the flood. For instance, people whose houses are flooded are more vulnerable to being infected by Covid-19 as they have a shortage of clean water and sanitation (Ishiwatari et al., 2020). Therefore, pandemic risk needs to be taken into account in flood risk management, those will bring Jakarta into a big catastrophe in the next pandemic. read more

Inovasi Tata Kelola dalam Pembangunan Desa Melalui Pemanfaatan Basic Digital Technology

brief articleRevolusi Digital Monday, 15 April 2024

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana inovasi sosial melalui tata kelola pedesaan diterapkan dalam memanfaatkan teknologi basic, seperti internet, handphone, dan media sosial. Sasaran inovasi tersebut adalah masyarakat desa yang notabenenya dikatakan belum mampu/tertinggal dalam memanfaatkan perkembangan teknologi karena berbagai faktor seperti tidak meratanya infrastruktur, kurangnya kemampuan mengakses teknologi karena rendahnya pendapatan, kurangnya literasi dan kemampuan digital, hingga penolakan terhadap teknologi (Dihni, 2022; Hadi, 2018; Oktavianoor et al., 2020). read more

Sustainability Versus Profitability: Lithium Iron Phosphate (LFP) Batteries in Indonesia’s Transition to Green Energy Amidst Nickel-based Trends

brief articlePerubahan Iklim Monday, 1 April 2024

Indonesia, known for its vast nickel deposits, is poised to become a major player in the global battery industry. Nonetheless, a pivotal choice looms on the horizon —one that could lead the country down a path of sustainability or prosperity. As many scientists have advocated for a shift towards greener living, electric vehicles (EVs) are gaining traction as one of the solutions to a green lifestyle. Indonesia was distributing 81,525 units of EVs by 2023 (Ika, 2023), a significant increase from previous years. Meanwhile, the number of electric motorcycles alone surged 13-fold from 2020 to 2023 (Annur, 2023). read more

Esports Diplomacy to Strengthen China-ASEAN Comprehensive Strategic Partnership: From Competition to Coalition

brief article Monday, 25 March 2024

As Gen-Z – a generation born between 1997-2012 – the author sees how international relations interactions have changed, including diplomacy. d’Hooghe (2015, in Furrer, 2020) describes two models of public diplomacy; the “state-centered”, which is often represented by the official state delegations, and the “network-based”, which also involves various non-state actors to encourage dialogue and collaboration between states. Nations need to combine the two models of public diplomacy to promote images, build relationships, and engage audiences. The categorization of d’Hooge’s public diplomacy sees soft power, such as media, events, human resources, and publications/promotions, as instruments of public diplomacy. Nye (2004, in Furrer, 2020) describes soft power as an ability to cooperate instead of coercion. Soft-powered public diplomacy can be accomplished through esports diplomacy. read more

123456
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY