Modernisasi kehidupan menuntut manusia untuk selalu melakukan pembangunan dalam rangka peningkatan kualitas kehidupan. Masifikasi pembangunan tidak hanya menimbulkan pengaruh positif, tetapi juga menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan. Salah satu dampak negatif yang bersifat lokal adalah kerusakan alam. Kerusakan alam terjadi akibat pemanfaatan sumber daya alam bersifat eksploitatif. Sementara dampak negatif bersifat global adalah perubahan iklim. Menurut laporan dari World Meteorological Organization (WMO) (2022) mengenai keadaan iklim dunia tahun 2021, suhu permukaan bumi meningkat hingga 0,85°C dibanding suhu rata-rata tahunan periode 1951-1980. Ironisnya, pembangunan manusia tidak saja merusak alam dan meningkatkan resiko perubahan iklim namun dilakukan dengan memarjinalisasi kelompok masyarakat tertentu, termasuk kelompok masyarakat tradisional.
Wigke Capri
Hutan mangrove kerap dikenal sebagai hutan payau atau hutan bakau. Nama bakau sendiri diambil dari salah satu jenis penyusun mangrove yakni Rhizophora Sp. yang dapat ditemukan di keseluruhan pesisir Indonesia. Jenis tersebut berasosiasi bersama jenis mangrove lainnya antara lain Avicennia Sp., Bruguiera Sp., Sonneratia Sp., serta jenis asosiasi lain membentuk satu kesatuan hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan bagian dari hutan tropis yang berada di kawasan pesisir yang memiliki relasi kuat dengan pasang surut air laut, tingkat ketenangan gelombang laut dan kondisi tanah relatif berlumpur. Selain hidup dalam ekologi laut, hutan mangrove juga dapat ditemukan di muara sungai (estuari) sebagai daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan (ekosistem air payau).
Perubahan iklim merupakan masalah global yang dihadapi semua negara di dunia dan telah mencuri perhatian negara di dunia. Prioritas isu mengenai perubahan iklim menjadi topik menarik dalam melihat hubungan keterikatan manusia-alam dan sebaliknya, akan tetapi kondisi menunjukkan saat ini catur politik di Indonesia bak ibarat pepatah “Jauh panggang dari api” yang artinya jawaban perubahan iklim tidak seperti yang diharapkan dalam kebijakan maupun tindakan. Di Indonesia, perubahan iklim telah dirasakan dengan penurunan produksi dari sektor pertanian yang disebabkan adanya perubahan cuaca, menyusul bencana alam yang disinyalir sebagai inti perubahan iklim atau disebut dengan hidrometeorologi merupakan bencana yang disebabkan oleh cuaca dan lingkungan, hal tersebut berdampak pada kerusakan lingkungan alam yang masif di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan tercatat Januari hingga September 2019 terdapat 98% bencana hidrometeorologi, posisi wilayah yang paling banyak terjadi bencana hidrometeorologi di Tahun 2019 adalah Jawa Tengah dengan angka bencana 692 kejadian (Aziz, 2020).
Transformasi digital tidak hanya menawarkan kesempatan baru untuk kemajuan ekonomi dan sosial, tetapi juga dapat mematikan bagi yang tidak dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dalam industri media, kemudahan yang diberikan transformasi digital memaksa perusahaan media dan jurnalis untuk merubah pola kerja. Tranformasi digital memberikan kemudahan dalam peningkatan produktivitas jurnalis. Namun, dengan alasan kemudahan teknnologi perusahaan media menuntut jurnalis untuk dapat melakukan banyak hal sekaligus dengan upah minimum. Efisiensi tersebut tidak hanya berdampak terhadap jurnalis, tetapi juga terhadap kualitas berita dan audience media.
Magang di Antara Ilusi dan Kelindan Neoliberalisasi
Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) dikenal sebagai salah satu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menjadi wujud transformasi pembelajaran dan pengajaran di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, MSIB ini diklaim memiliki berbagai manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya meliputi mahasiswa, universitas, dan mitra industri. Pertama, bagi mahasiswa, MSIB memberikan pengalaman bekerja di lingkungan profesional serta mendapatkan kompetensi di luar perkuliahan. Kedua, bagi universitas, MSIB menjadi laboratorium riil untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dunia usaha yang dinamis. Ketiga, bagi mitra industri, MSIB menjadi sarana untuk mendapatkan tenaga kerja di masa depan sekaligus ajang pemupukan ide-ide pengerjaan proyek maupun pemecahan masalah praktis di dunia industri itu sendiri.
Cyber-feminism was first initiated by Donna Haraway (1985), highlighting the issue of technology and the internet that women use to express and convey their aspirations. Fourth-wave feminism, which coincided with digital developments, helped to create a new space for feminists to speak out on various issues. According to the Dictionary of Media Studies (2006:58), cyber-feminism in particular examines new technologies and their impact on women’s issues. Cyber-feminism shows that the internet can empower marginalized groups (Gajjala, 1999:121). Hence, cyber-feminism is not just a theoretical study but a practical movement that offers ideas to eliminate discrimination against women.
Di awal tahun 2020, krisis Covid-19 mengejutkan sebagian besar masyarakat meskipun terdapat peringatan dari para ahli bahwa ancaman pandemi global adalah nyata (Riou & Althaus, 2020). Pandemi Covid-19 telah menimbulkan krisis global, menyebabkan tantangan sosial, ekonomi, dan kesehatan yang serius (Huang et al., 2022). Selama pandemi Covid-19, kebijakan lockdown mempengaruhi rutinitas sehari-hari; memaksa orang untuk berhenti bersosialisasi secara langsung dan mengubah cara orang mengekspresikan perasaan dan interaksi mereka secara romantis (Gassó et al., 2021). Pandemi Covid-19 memaksa mereka untuk membatasi interkasi sosial secara langsung. Teknologi komunikasi menjadi media mengisi absennya interaksi sosial langsung selama menghadapi krisis Covid-19.
Memantau lini masa Twitter sambil menyeruput es kopi di siang bolong memanglah nikmat. Apalagi ditemani alunan musik dari musisi yang anda idolakan sejak lama. Namun, pernahkah anda merasakan situasi itu seketika berubah dalam hitungan menit, ketika berhembus kabar bahwa musisi yang anda idamkan itu terkena cancel oleh warganet? Ratusan opini kontra bertubi-tubi memenuhi lini masa yang anda ikuti. Hal ini membuat anda bingung, dan bahkan terkonstruksi untuk ikut memboikot idola anda meski belum ada klarifiksasi yang jelas. Jika anda pernah berada di posisi ini, maka anda sudah menjadi bagian dari wacana cancel culture atau budaya pengenyahan, situasi di mana anda menarik rasa simpati dan empati dari seseorang atas tindakan yang disematkan kepadanya, hingga tidak jarang berujung pengucilan.
Penulis melihat ada dua hal menarik dalam pesta demokrasi 2024 mendatang; pemilih muda dan ruang demokrasi digital. Pertama kaum muda, berusia 17-39 tahun di Indonesia, akan mendominasi hak suara pada Pemilihan Umum tahun 2024 mendatang. Kedua, disrupsi akibat pandemi Covid-19 semakin menggiatkan penetrasi politik melalui ruang-ruang digital. Ruang digital ini tentunya memberi warna baru bagi kaum muda, sebagai generasi yang paling dekat dengan dunia digital, untuk menavigasikan preferensi politiknya. Jika aktor-aktor politik ingin merekayasa elektabilitasnya, sudah saatnya mereka untuk menerjemahkan fenomena ini dari tantangan menjadi peluang.
Industri media radio mengalami dampak akibat pandemi Covid-19. Adrian Syarkawie CEO Mahaka Radio Integra mengatakan bahwa di masa pandemi, perusahaan ataupun mitra iklan dan promosi melakukan penarikan dan menahan aktivitasnya yang mengakibatkan menurunnya jumlah pendapatan radio dari segi iklan (Kosasih, 2021). Disisi lain terdapat aturan pembatasan aktivitas masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan secara berkerumun juga menjadi problematika bagi industri radio yang sebelumnya selain memberikan iklan melalui siaran on-air juga melakukan kegiatan off-air seperti mendatangi masyarakat sebagai strategi promosi juga harus terhenti. Peranan radio sebagai media komunikasi massa lantas tidak berhenti, di masa krisis pandemi justru radio melakukan berbagai peranan sebagai media informasi publik yang selalu melakukan kampanye kebijakan pemerintah seperti PSBB maupun penggunaan masker di masyarakat. di awal pandemi setidaknya pendengar radio mengalami peningkatan jumlah pendengar terutama di Jakarta (PRSSNI, 2020). Peningkatan jumlah pendengar tersebut ditemui pada platform streaming atau radio melalui siaran online. Lebih lanjut dampak dari pandemi juga menunjukan adanya pergeseran dan peningkatan, sekaligus sebagai momentum pembuktian akan percepatan dan pemanfaatan teknologi digital pada sebuah industri radio. Tulisan dalam artikel ini berfokus pada kondisi radio selama masa pandemi, pemanfaatan teknologi digital dan harapan pasca pandemi.