Particularly, social media was not novel in Indonesia prior to the COVID-19 pandemic. According to data from We Are Social and Hootsuite, the proportion of internet users in Indonesia stood at 196.7 million during January 2020, constituting 73.7% of the overall populace. About 56% of this population, or 150 million, utilize social media. At that time, social media usage primarily facilitated individual existence and social interaction, as evidenced by the prevalence of personal communication via WhatsApp, information sharing and engagement with friends and family via Facebook, and photos and videos on Instagram.
Wigke Capri
Peningkatan Penyakit Akibat Kualitas Udara
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengalami peningkatan seiring rendahnya kualitas udara. Data Kementerian Kesehatan menunjukan peningkatan ISPA non-pneumonia di wilayah Jabodetabek pada 29 Agustus hingga 6 September 2023 mencapai 90.546 orang. Perlu dipahami bersama bahwa rendahnya kualitas udara tidak hanya disebabkan oleh emisi PM 2.5, yang merupakan parameter untuk mengukur kualitas dan tingkat polusi udara. Lebih dari itu, emisi polutan lain, seperti SO2 dan NOx, yang berasal dari sumber seperti pembakaran bahan bakar fosil, kendaraan bermotor, industri, dll. juga berkontribusi dalam pembentukan partikel PM 2.5. Menurut laporan Air Quality Index (AQLI, 2021), pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara, tidak hanya secara langsung meningkatkan konsentrasi PM 2.5, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Tak ada transisi yang mudah, apalagi jika dimaknai untuk mengubah kemapanan yang berabad lamanya. Termasuk mapannya dominasi listrik batubara di Indonesia yang ternyata menghadirkan kesejahteraan semu belaka.
Sebenarnya ada banyak opsi yang memungkinkan bagi kita untuk move on dari batubara. Salah satunya adalah beralih ke panel surya yang teknologinya tidak rumit, praktis dalam instalasinya, dan harga yang kian terjangkau.
Bagaimana peluang panel surya menggeser peran listrik batubara?
Karakteristik Panel Surya yang Intermiten
Adaptasi terhadap modernisasi berdampak tidak hanya pada gaya hidup namun juga lingkungan hidup. Climate change atau perubahan iklim menjadi contoh kasus degradasi lingkungan hidup yang terus disoroti hampir di seluruh dunia. Gaya hidup manusia yang terus mengeksploitasi alam untuk memenuhi kebutuhan produksi tidak mampu diimbangi oleh proses pelestarian lingkungan hidup. Lebih jauhnya, populasi manusia terus bertambah sedangkan ruang hijau semakin mengecil. Ekosistem menjadi tidak stabil dan menyebabkan banyak bencana tidak hanya bagi peradaban manusia namun juga makhluk lainnya. Seperti peningkatan suhu bumi yang diprediksi telah meningkat 0.8°C per dekade sejak tahun 1880. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, mencatat rata-rata suhu maksimum terdapat di tiga provinsi yaitu Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, dan Banten. Rata-rata suhu maksimum di tiga provinsi tersebut di atas 35°C. Sebagai akibat dari degradasi lingkungan hidup, peningkatan suhu bumi berdampak pada aktivitas manusia terutama di kawasan perkotaan dan pembangunan berkelanjutan di kawasan rural.
Riset yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa selama enam bulan pada tahun 2019, Yogyakarta hanya memiliki 50 hari dengan kualitas udara baik dan 92 hari dengan kualitas udara moderat dan tidak sehat (Nugroho, 2021). Data tersebut memperlihatkan bahwa diperlukan upaya serius untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan beralih ke kendaraan rendah karbon, yaitu sepeda. Penulis memilih topik ini karena penelitian masalah pencemaran udara dalam skope penelitian lingkungan masih terbatas. Melalui tulisan ini, penulis berusaha mengidentifikasi upaya aksi kolektif yang dilakukan oleh komunitas Jogja Lebih Bike (JLB) dalam memerangi pencemaran udara akibat kendaraan bermotor. Identifikasi dilakukan melalui pengamatan terhadap upaya dan dampak aksi kolektif terhadap pencemaran udara di Yogyakarta. JLB menjadi objek penelitian yang menarik untuk diteliti karena komunitas ini tidak hanya bersepeda sebagai kegiatan rekreasional dan olahraga, tetapi juga berlandaskan kepedulian terhadap pencemaran udara[1]. Selain itu, JLB mewadahi aksi-aksi kolektif yang diperlukan untuk menyelamatkan bumi serta menggunakan aksi-aksi yang anti-mainstream dan nirkekerasan dalam mencapai tujuannya.
Perubahan iklim merupakan isu serius yang perlu mendapatkan perhatian dan aksi nyata. Salah satu aksi nyata adalah mengurangi penggunaan energi fosil. Dalam penelitian OECD (2022) sebanyak 81% pasokan listrik di Indonesia masih bergantung dengan energi fosil, terutama batu bara. Bahkan, menurut Dadan Kusdiana selaku Jenderal Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM dalam “Webinar Kilang dalam Transisi Energi” yang diselenggarakan pada November 2021, penggunaan energi fosil di Indonesia masih menyentuh angka 88,8% dari total penggunaan energi bauran primer. Penggunaan energi fosil menyebabkan kenaikan emisi gas rumah kaca, sehingga iklim menjadi tidak stabil serta meningkatnya suhu bumi dan permukaan air laut (Pertamina, 2020). Data tersebut menunjukan negara kita, Indonesia masih menggunakan energi fosil dalam skala besar.
Kini, bermain gim tidak dapat dipandang sebelah mata saja. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengubah persepsi masyarakat terhadap gim. Munculnya online video games (OVG) yang acap kali dimainkan oleh anak muda di Indonesia telah mendobrak persepsi negatif bahwa bermain gim hanya membuat anak menjadi kecanduan dan agresif (Cnn Indonesia, 20 Maret 2019; Adit, 21 November 2021). Sebaliknya, munculnya OVG membuat anak dapat bersosialisasi, bahkan dianggap sebagai media baru yang dapat mendorong keterlibatan (Krisna, 10 Juni 2020). Tulisan ini akan menjelaskan pengaruh TIK terhadap gim serta peluang gim sebagai media baru untuk meningkatkan keterlibatan di sektor pendidikan atau yang dikenal dengan istilah gamifikasi.
Perhelatan akbar pemilihan umum 2024 sudah dekat. Jika sebelumnya, aktivitas komunikasi politik memerlukan banyak medium untuk menyampaikan pesan politik, kini media digital bukan hanya sebagai suatu capaian perkembangan. Setidaknya, Penulis menemukan tiga transformasi media digital. Pertama, media digital bekerja sebagai arena pertarungan utama para aktor politik dalam upaya menggalang dukungan suara sebanyak-banyaknya. Kedua, media digital juga menjadi arena pertukaran informasi dan komunikasi politik yang dekat dan bersifat inklusif, mudah diakses masyarakat luas. Untuk itu, penulis melihat aktor politik harus cermat dan giat dalam menembak pasar untuk modal politik utama dalam media digital yaitu mengideologisasi dan menyebarkan visi.
Masyarakat global terus mengalami perubahan dan kerap kali menghasilkan fenomena-fenomena sosial baru. Salah satu hal baru yang tampak menonjol adalah kesadaran dari Generasi Z atau Gen Z mengenai kesehatan mental. Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) pada tahun 2019. Pertama, penelitian tersebut menemukan bahwa Gen Z di Amerika Serikat, secara signifikan, memiliki kemungkinan lebih tinggi dalam melaporkan permasalahan pada kondisi mental mereka, dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Kedua, penelitian tersebut juga menemukan bahwa lebih banyak dari Gen Z, dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, yang melaporkan bahwa mereka telah atau sedang menerima pertolongan profesional untuk kesehatan mental mereka. Kesadaran Gen Z mengenai kesehatan mental ini dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari mereka, baik dalam kehidupan nyata maupun di media sosial. Dalam kaitannya dengan media sosial, hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan sebab Gen Z lahir dan dibesarkan dengan kehadiran internet.
We’ve all heard the saying ‘you are what you eat’, but have you ever considered that the same might be true for the media we consume? From news articles to social media feeds, the content we consume daily can shape our thoughts, beliefs, and even our identities. So, just as we carefully choose our meals to nourish our bodies, perhaps it’s time we start being more intentional about what we feed our minds.
Media plays a significant role in shaping the values and beliefs of its audience, according to many media effect theories. However, the active audience theory rejects this notion, arguing that audiences are not passive recipients of media messages. Rather, they are actively engaged in interpreting and constructing meaning from media content.