Memantau lini masa Twitter sambil menyeruput es kopi di siang bolong memanglah nikmat. Apalagi ditemani alunan musik dari musisi yang anda idolakan sejak lama. Namun, pernahkah anda merasakan situasi itu seketika berubah dalam hitungan menit, ketika berhembus kabar bahwa musisi yang anda idamkan itu terkena cancel oleh warganet? Ratusan opini kontra bertubi-tubi memenuhi lini masa yang anda ikuti. Hal ini membuat anda bingung, dan bahkan terkonstruksi untuk ikut memboikot idola anda meski belum ada klarifiksasi yang jelas. Jika anda pernah berada di posisi ini, maka anda sudah menjadi bagian dari wacana cancel culture atau budaya pengenyahan, situasi di mana anda menarik rasa simpati dan empati dari seseorang atas tindakan yang disematkan kepadanya, hingga tidak jarang berujung pengucilan.
brief article
Penulis melihat ada dua hal menarik dalam pesta demokrasi 2024 mendatang; pemilih muda dan ruang demokrasi digital. Pertama kaum muda, berusia 17-39 tahun di Indonesia, akan mendominasi hak suara pada Pemilihan Umum tahun 2024 mendatang. Kedua, disrupsi akibat pandemi Covid-19 semakin menggiatkan penetrasi politik melalui ruang-ruang digital. Ruang digital ini tentunya memberi warna baru bagi kaum muda, sebagai generasi yang paling dekat dengan dunia digital, untuk menavigasikan preferensi politiknya. Jika aktor-aktor politik ingin merekayasa elektabilitasnya, sudah saatnya mereka untuk menerjemahkan fenomena ini dari tantangan menjadi peluang.
The affinity between the United States and China has been unsteady; both have had the most critical and complex bilateral relationship throughout history. This affiliation is growing worse over the years, especially when China started gaining ground in competition over the dominant position in the global economy and political system. In this digital age, the game between the two countries is more than just a trade war. Recently, technology has become the core issue of the rivalry between the US and China, and even the term Tech War has been formalized in official US documents (Danilin, 2021). In this article, I argue that the US-China Technology War has significantly strengthened China’s technological existence in Global South, which led to a more considerable opportunity to reduce the digital divide within South countries.
Secara global, perusahaan platform digital tidak memproduksi barang dan jasa tapi menyediakan infrastruktur yang memungkinkan perdagangan barang dan jasa oleh siapapun. Uber adalah perusahaan layanan transportasi tanpa memiliki aset kendaraan, AirBNB menyediakan layanan akomodasi komersil tanpa memiliki aset hotel atau properti. Hal baru yang dilakukan oleh perusahaan ini bukanlah pada jenis lapangan pekerjaan yang ditawarkan, tapi bagaimana pekerjaan-pekerjaan ini diorganisir.
Yang menarik adalah, platform digital tidak hanya menjadi penyedia lapak untuk berdagang saja tetapi juga berperan lebih besar dalam mengatur transaksi, misalnya: mempertemukan supply dan demand melalui algorithmic matching, menentukan harga barang atau jasa. Pada prakteknya perusahaan aplikasi mampu mengorganisir pasar dan mengubah logika institusi pasar dan korporasi dengan cara yang baru. Di saat yang sama, perusahaan aplikasi berperan sebagai regulator yang mengatur pekerja ‘gig’ sebagai mitra bisnis yang berdiri sendiri tapi masih banyak membatasi kebebasan mereka dalam berusaha. Tulisan ini akan membahas bagaimana ekonomi digital mendefinisikan ulang ketiga logika institusi tersebut.
Isu-isu kesenjangan, seperti disparitas dan kolonialisme digital, sering kali ikut membersamai bahasan mengenai ekonomi digital. Ketidaksetaraan akses internet hingga monopoli data merupakan dua problematika yang muncul, termasuk di Indonesia. Kesenjangan pun juga memunculkan berbagai praktik persaingan usaha yang tidak sehat, misalnya mengenai monopoli data digital dan jaringan internet oleh sebagian kecil pelaku ekonomi digital. Google, Amazon, Meta, Apple, dan Microsoft (GAMAM)[1] merupakan lima korporasi yang menguasai data digital dan jaringan internet global, termasuk industri periklanan, mesin pencarian, hingga kekayaan intelektual. Bahkan, nilai kapitalisasi pasar GAMAM pada tahun 2019 lebih besar dibandingkan total produk domestik bruto (PDB) Australia, Kanada, Prancis, dan Inggris (Mirrlees, 2022). Posisi dominan inilah yang menyebabkan beberapa negara seringkali kesulitan dalam menghadapi sengketa di ranah digital, terutama ketika berhadapan dengan korporasi raksasa seperti GAMAM.
While the rest of the world largely returned to everyday life in 2021, this is not the case in China. While the country was celebrated as one of the “successful” countries in combating the COVID-19 pandemic, many of its cities remain in lockdown two years into the pandemic. While there is growing discontent with this policy, the Chinese government has insisted that the zero-COVID policy is the best policy to handle the pandemic in China. The appointment of Li Qiang, the Party Secretary of Shanghai during the brutal COVID-19 lockdown in early 2022 that harmed the economy, in the 20th National Congress of the Chinese Communist Party as the next premier of China has proven that Xi Jinping has doubled down on China’s continued application of the zero-COVID policy (BBC News 2022).
Kemajuan teknologi komunikasi membawa masyarakat untuk masuk ke dalam situasi yang disebut dengan hiperkonektivitas (hyperconnectivity). Hiperkonektivitas adalah keadaan di mana masyarakat selalu terhubung dan dapat berinteraksi dengan siapa saja melalui teknologi, bisa mengakses berbagai macam teknologi komunikasi kapan saja dan di mana saja, kaya akan informasi yang bahkan melebihi kapasitas konsumsi seseorang, serta selalu merekam berbagai aktivitas yang dijalani, baik secara daring maupun luring (Fredette, dkk, 2012). Hiperkonektivitas memiliki dampak yang spesifik dan unik pada kelompok masyarakat tertentu. Salah satunya adalah kelompok keagamaan di Indonesia, negara religius yang jumlah penetrasi telepon genggam lebih besar daripada jumlah penduduk secara keseluruhan (We Are Social, 2015, dalam Epafras, 2016).
Industri media radio mengalami dampak akibat pandemi Covid-19. Adrian Syarkawie CEO Mahaka Radio Integra mengatakan bahwa di masa pandemi, perusahaan ataupun mitra iklan dan promosi melakukan penarikan dan menahan aktivitasnya yang mengakibatkan menurunnya jumlah pendapatan radio dari segi iklan (Kosasih, 2021). Disisi lain terdapat aturan pembatasan aktivitas masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan secara berkerumun juga menjadi problematika bagi industri radio yang sebelumnya selain memberikan iklan melalui siaran on-air juga melakukan kegiatan off-air seperti mendatangi masyarakat sebagai strategi promosi juga harus terhenti. Peranan radio sebagai media komunikasi massa lantas tidak berhenti, di masa krisis pandemi justru radio melakukan berbagai peranan sebagai media informasi publik yang selalu melakukan kampanye kebijakan pemerintah seperti PSBB maupun penggunaan masker di masyarakat. di awal pandemi setidaknya pendengar radio mengalami peningkatan jumlah pendengar terutama di Jakarta (PRSSNI, 2020). Peningkatan jumlah pendengar tersebut ditemui pada platform streaming atau radio melalui siaran online. Lebih lanjut dampak dari pandemi juga menunjukan adanya pergeseran dan peningkatan, sekaligus sebagai momentum pembuktian akan percepatan dan pemanfaatan teknologi digital pada sebuah industri radio. Tulisan dalam artikel ini berfokus pada kondisi radio selama masa pandemi, pemanfaatan teknologi digital dan harapan pasca pandemi.
Digital Farming menjadi titik perubahan ekonomi politik penting dalam rezim pangan sejak terjadinya Revolusi Hijau pada tahun 1950-an dan 1960-an. Salah satu aspek perubahan penting tersebut adalah peran teknologi dalam integrasi pasar yang semakin luas dan konsentrasi jangkauan kekuatan dari korporasi pangan (Rotz et al., 2019). Adopsi teknologi yang menguat dalam digital farming memunculkan permasalahan baru seperti kemampuan petani dalam mengaksesnya di tengah harganya yang mahal dan fluktuasi harga penjualan komoditas pangan. Penguasaan atas aset, infrastruktur, peralatan dan sumber daya yang terbatas memengaruhi kemampuan petani dalam proses adopsi teknologi dalam mekanisme digital farming.
Instagram mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan banjir sorotan netizen pada hari-hari terakhir ia menjabat sebagai gubernur. Ratusan ribu like dan ribuan komentar warganet membanjiri postingan Instagram dengan 5,8 juta pengikut itu . Warganet ingin mengucapkan salam perpisahan, memuji kerja-kerjanya selama lima tahun terakhir dan tak sedikit pula yang mengkritik Anies, yang jabatannya berakhir pada 16 Oktober 2022.
Popularitas bakal calon presiden 2024 usungan Partai NasDem itu direkam oleh lembaga analisa data media sosial Drone Emprit. Belum lama ini Drone Emprit mengeluarkan hasil survei yang menyebut popularitas Anies Baswedan di media sosial sepanjang awal hingga pertengahan Oktober telah jauh mengungguli pesaing-pesaingnya di bursa capres 2024. Nama Anies Baswedan paling banya dibicarakan publik di media sosial. (Tempo, 26 Oktober 2022).