Transformasi digital tidak hanya menawarkan kesempatan baru untuk kemajuan ekonomi dan sosial, tetapi juga dapat mematikan bagi yang tidak dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dalam industri media, kemudahan yang diberikan transformasi digital memaksa perusahaan media dan jurnalis untuk merubah pola kerja. Tranformasi digital memberikan kemudahan dalam peningkatan produktivitas jurnalis. Namun, dengan alasan kemudahan teknnologi perusahaan media menuntut jurnalis untuk dapat melakukan banyak hal sekaligus dengan upah minimum. Efisiensi tersebut tidak hanya berdampak terhadap jurnalis, tetapi juga terhadap kualitas berita dan audience media.
Revolusi Digital
Magang di Antara Ilusi dan Kelindan Neoliberalisasi
Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) dikenal sebagai salah satu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menjadi wujud transformasi pembelajaran dan pengajaran di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, MSIB ini diklaim memiliki berbagai manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya meliputi mahasiswa, universitas, dan mitra industri. Pertama, bagi mahasiswa, MSIB memberikan pengalaman bekerja di lingkungan profesional serta mendapatkan kompetensi di luar perkuliahan. Kedua, bagi universitas, MSIB menjadi laboratorium riil untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dunia usaha yang dinamis. Ketiga, bagi mitra industri, MSIB menjadi sarana untuk mendapatkan tenaga kerja di masa depan sekaligus ajang pemupukan ide-ide pengerjaan proyek maupun pemecahan masalah praktis di dunia industri itu sendiri.
Cyber-feminism was first initiated by Donna Haraway (1985), highlighting the issue of technology and the internet that women use to express and convey their aspirations. Fourth-wave feminism, which coincided with digital developments, helped to create a new space for feminists to speak out on various issues. According to the Dictionary of Media Studies (2006:58), cyber-feminism in particular examines new technologies and their impact on women’s issues. Cyber-feminism shows that the internet can empower marginalized groups (Gajjala, 1999:121). Hence, cyber-feminism is not just a theoretical study but a practical movement that offers ideas to eliminate discrimination against women.
Di penghujung 2022, OpenAI (sebuah lembaga penelitian teknologi nirlaba yang didanai oleh Altman dan Musk) merilis chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), ChatGPT. Robot ini adalah model AI berbasis percakapan/dialog yang disusun dari serangkaian model AI Generative Pre-trained Transformer (Chang, 2022). Hanya dalam kurun waktu 3 bulan ChatGPT telah menunjukkan kebermanfaatan di ragam industri, khususnya pekerjaan seperti copywriting, penulisan laporan berita, menjawab pertanyaan customer service hingga membuat dokumen legal.
Di awal tahun 2020, krisis Covid-19 mengejutkan sebagian besar masyarakat meskipun terdapat peringatan dari para ahli bahwa ancaman pandemi global adalah nyata (Riou & Althaus, 2020). Pandemi Covid-19 telah menimbulkan krisis global, menyebabkan tantangan sosial, ekonomi, dan kesehatan yang serius (Huang et al., 2022). Selama pandemi Covid-19, kebijakan lockdown mempengaruhi rutinitas sehari-hari; memaksa orang untuk berhenti bersosialisasi secara langsung dan mengubah cara orang mengekspresikan perasaan dan interaksi mereka secara romantis (Gassó et al., 2021). Pandemi Covid-19 memaksa mereka untuk membatasi interkasi sosial secara langsung. Teknologi komunikasi menjadi media mengisi absennya interaksi sosial langsung selama menghadapi krisis Covid-19.
Memantau lini masa Twitter sambil menyeruput es kopi di siang bolong memanglah nikmat. Apalagi ditemani alunan musik dari musisi yang anda idolakan sejak lama. Namun, pernahkah anda merasakan situasi itu seketika berubah dalam hitungan menit, ketika berhembus kabar bahwa musisi yang anda idamkan itu terkena cancel oleh warganet? Ratusan opini kontra bertubi-tubi memenuhi lini masa yang anda ikuti. Hal ini membuat anda bingung, dan bahkan terkonstruksi untuk ikut memboikot idola anda meski belum ada klarifiksasi yang jelas. Jika anda pernah berada di posisi ini, maka anda sudah menjadi bagian dari wacana cancel culture atau budaya pengenyahan, situasi di mana anda menarik rasa simpati dan empati dari seseorang atas tindakan yang disematkan kepadanya, hingga tidak jarang berujung pengucilan.
The affinity between the United States and China has been unsteady; both have had the most critical and complex bilateral relationship throughout history. This affiliation is growing worse over the years, especially when China started gaining ground in competition over the dominant position in the global economy and political system. In this digital age, the game between the two countries is more than just a trade war. Recently, technology has become the core issue of the rivalry between the US and China, and even the term Tech War has been formalized in official US documents (Danilin, 2021). In this article, I argue that the US-China Technology War has significantly strengthened China’s technological existence in Global South, which led to a more considerable opportunity to reduce the digital divide within South countries.
Secara global, perusahaan platform digital tidak memproduksi barang dan jasa tapi menyediakan infrastruktur yang memungkinkan perdagangan barang dan jasa oleh siapapun. Uber adalah perusahaan layanan transportasi tanpa memiliki aset kendaraan, AirBNB menyediakan layanan akomodasi komersil tanpa memiliki aset hotel atau properti. Hal baru yang dilakukan oleh perusahaan ini bukanlah pada jenis lapangan pekerjaan yang ditawarkan, tapi bagaimana pekerjaan-pekerjaan ini diorganisir.
Yang menarik adalah, platform digital tidak hanya menjadi penyedia lapak untuk berdagang saja tetapi juga berperan lebih besar dalam mengatur transaksi, misalnya: mempertemukan supply dan demand melalui algorithmic matching, menentukan harga barang atau jasa. Pada prakteknya perusahaan aplikasi mampu mengorganisir pasar dan mengubah logika institusi pasar dan korporasi dengan cara yang baru. Di saat yang sama, perusahaan aplikasi berperan sebagai regulator yang mengatur pekerja ‘gig’ sebagai mitra bisnis yang berdiri sendiri tapi masih banyak membatasi kebebasan mereka dalam berusaha. Tulisan ini akan membahas bagaimana ekonomi digital mendefinisikan ulang ketiga logika institusi tersebut.
Isu-isu kesenjangan, seperti disparitas dan kolonialisme digital, sering kali ikut membersamai bahasan mengenai ekonomi digital. Ketidaksetaraan akses internet hingga monopoli data merupakan dua problematika yang muncul, termasuk di Indonesia. Kesenjangan pun juga memunculkan berbagai praktik persaingan usaha yang tidak sehat, misalnya mengenai monopoli data digital dan jaringan internet oleh sebagian kecil pelaku ekonomi digital. Google, Amazon, Meta, Apple, dan Microsoft (GAMAM)[1] merupakan lima korporasi yang menguasai data digital dan jaringan internet global, termasuk industri periklanan, mesin pencarian, hingga kekayaan intelektual. Bahkan, nilai kapitalisasi pasar GAMAM pada tahun 2019 lebih besar dibandingkan total produk domestik bruto (PDB) Australia, Kanada, Prancis, dan Inggris (Mirrlees, 2022). Posisi dominan inilah yang menyebabkan beberapa negara seringkali kesulitan dalam menghadapi sengketa di ranah digital, terutama ketika berhadapan dengan korporasi raksasa seperti GAMAM.
Kemajuan teknologi komunikasi membawa masyarakat untuk masuk ke dalam situasi yang disebut dengan hiperkonektivitas (hyperconnectivity). Hiperkonektivitas adalah keadaan di mana masyarakat selalu terhubung dan dapat berinteraksi dengan siapa saja melalui teknologi, bisa mengakses berbagai macam teknologi komunikasi kapan saja dan di mana saja, kaya akan informasi yang bahkan melebihi kapasitas konsumsi seseorang, serta selalu merekam berbagai aktivitas yang dijalani, baik secara daring maupun luring (Fredette, dkk, 2012). Hiperkonektivitas memiliki dampak yang spesifik dan unik pada kelompok masyarakat tertentu. Salah satunya adalah kelompok keagamaan di Indonesia, negara religius yang jumlah penetrasi telepon genggam lebih besar daripada jumlah penduduk secara keseluruhan (We Are Social, 2015, dalam Epafras, 2016).