Universitas Gadjah Mada
  • Article
    • Perubahan Iklim
    • Revolusi Digital
    • Pandemi
    • Brief Article
  • E-Book
  • Siniar
  • Video
  • Agenda
  • Berkontribusi
  • Tentang Megashift
  • Beranda
  • brief article
  • Beyond Artificial Intelligence: Menuju Indonesia Emas 2045 melalui Indonesia Technology Megashift Framework (ITMF)

Beyond Artificial Intelligence: Menuju Indonesia Emas 2045 melalui Indonesia Technology Megashift Framework (ITMF)

  • brief article
  • 2 July 2026, 14.15
  • Oleh: fisipol
  • 0

Selama dua tahun terakhir dunia dipenuhi euforia Artificial Intelligence (AI). Kehadiran (generative/agent) AI telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, meneliti, hingga mengambil keputusan. AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kemampuan memahami AI menjadi kompetensi dasar di dunia kerja, pendidikan, dan pemerintahan. Pemerintah, industri, perguruan tinggi, hingga masyarakat berlomba mengadopsi AI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Namun, di balik euforia tersebut muncul pertanyaan penting: apa yang terjadi setelah AI ? Apakah AI merupakan tujuan akhir evolusi teknologi, atau justru menjadi fondasi bagi lompatan teknologi berikutnya?

Jika AI dipandang sebagai awal transformasi menuju robotika cerdas dan kedaulatan teknologi, Indonesia memiliki peluang memperkuat daya saing menuju Indonesia Emas 2045. Dalam Indonesia 2045 (Bappenas, 2015), penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi menjadi fondasi pembangunan nasional. Karena itu, AI dan robotika cerdas perlu diposisikan sebagai instrumen strategis, bukan sekadar produk teknologi.

Perkembangan riset AI menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki babak baru. Jika dekade 2010-an ditandai oleh machine learning dan dekade 2020-an oleh ledakan Generative AI, maka dekade berikutnya diperkirakan menjadi era Agentic Intelligence, Embodied Intelligence, dan Intelligent Robotics. Kemampuan AI tidak hanya memahami teks, gambar, atau suara, tetapi mampu merasakan lingkungan, mengambil keputusan, dan bertindak secara mandiri melalui sistem robotik. Tantangan Indonesia bukan sekadar mengadopsi AI, melainkan memimpin transformasi menuju robotika cerdas yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Arah riset di berbagai universitas Belanda menunjukkan bahwa AI tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir. DASH-UMCG dengan trustworthy AI untuk kesehatan, Utrecht mengembangkan AI untuk penilaian risiko dan tata kelola teknologi, IHE Delft berfokus pada ketahanan air dan iklim, WUR-Wageningen terkait smart agriculture, precision farming, digital twins, robotika pertanian, pengelolaan lingkungan, sistem pangan berkelanjutan, TU-Delft mengembangkan embodied intelligence dan human–robot interaction. Kesamaan mereka adalah menempatkan AI sebagai fondasi bagi block-block sistem cerdas yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Berangkat dari perkembangan tersebut, perlu adanya Indonesia Technology Megashift Framework (ITMF). Kerangka ini menggambarkan evolusi teknologi dari Digitalization, Artificial Intelligence, Agentic Intelligence, Embodied Intelligence, hingga Intelligent Robotics. Robotics bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju Technology Sovereignty, yaitu kemampuan bangsa menguasai teknologi strategis dan bermuara Human-Centered Society 2045. Pada tahap ini, teknologi diharapkan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pada sektor kesehatan, pertanian, industri, logistik, energi, mitigasi bencana, dan berbagai bidang lainnya.

Berdasarkan ITMF, terdapat lima poin agenda strategis menuju Indonesia Emas 2045, yaitu memperkuat riset lintas disiplin, membangun SDM dan kepemimpinan digital, memperkuat tata kelola AI, membangun kedaulatan teknologi melalui industri strategis, serta memastikan seluruh inovasi bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Pandangan tersebut relevan ketika dikaitkan dengan tantangan percepatan AI, dinamika geopolitik teknologi, perubahan pasar tenaga kerja, dan tuntutan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, energi, dan pelayanan publik perlu dirumuskan secara terpadu.

Dalam konteks tersebut, perspektif ilmu sosial menjadi sama pentingnya dengan inovasi teknologi. Wawan Mas’udi (2026) menegaskan bahwa tata kelola AI tidak hanya berbicara mengenai algoritma, tetapi juga institusi, hak asasi manusia, dan akuntabilitas publik. Center for Digital Society (CfDS) FISIPOL UGM melalui AI Policy Monitoring Dashboard menekankan pentingnya tata kelola AI inklusif agar manfaat teknologi dirasakan secara adil oleh masyarakat.

Dunia kerja juga menghadapi tantangan besar. Nurhadi Susanto (2024) menjelaskan bahwa disrupsi digital akan mengubah struktur ketenagakerjaan Indonesia. Sebagian pekerjaan rutin akan tergantikan oleh otomatisasi, tetapi profesi baru terkait AI, robotika, keamanan siber, analitik data, dan tata kelola teknologi akan terus berkembang. Transformasi tersebut membutuhkan tenaga kerja terampil sekaligus pemimpin yang mampu mengelola perubahan. Priyanto dkk. (2025) menunjukkan bahwa kepemimpinan digital dibangun melalui pengelolaan talenta dan budaya pembelajaran. Dalam perspektif ITMF, kepemimpinan digital menjadi jembatan menuju Technology Sovereignty dan Human-Centered Society 2045.

Dari sisi teknologi, Selo (2026) menegaskan bahwa Indonesia tidak cukup hanya menguasai AI, tetapi juga lima layer teknologi, yaitu energi, semikonduktor, jaringan komunikasi, model AI, dan aplikasi yang terintegrasi robotika cerdas. Tanpa penguasaan teknologi dasar tersebut, Indonesia akan tetap bergantung pada negara lain. Perspektif ini selaras dengan Karim, Rethel, Choiruzzad, dan Winanti (2026) bahwa tradisi economic nationalism Indonesia berakar pada upaya membangun kapasitas nasional dan membebaskan dari ketergantungan struktural. Dalam konteks transformasi ini, penguasaan teknologi strategis dipahami sebagai bentuk baru dari penguatan kapasitas nasional di era ekonomi berbasis pengetahuan.

Perkembangan Embodied AI (Putra dkk., 2024) dan model multimodal seperti PaLM-E (Akhtar, 2026) menunjukkan bahwa masa depan AI bergerak menuju integrasi antara kecerdasan digital dan dunia fisik. Kompetisi global berikutnya bukan lagi tentang siapa yang memiliki model AI terbesar, tetapi siapa yang mampu membangun ekosistem teknologi yang menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.

Beyond Artificial Intelligence bukan berarti meninggalkan AI. Sebaliknya, AI harus dipandang sebagai fondasi menuju transformasi teknologi yang lebih besar. Indonesia tidak cukup menjadi pengguna AI, tetapi perlu membangun kapasitas nasional melalui riset, kepemimpinan digital, tata kelola yang inklusif, dan kedaulatan teknologi. Melalui Indonesia Technology Megashift Framework (ITMF), transformasi teknologi dipahami sebagai proses bertahap yang menghubungkan evolusi AI dengan pembangunan kapasitas nasional menuju Indonesia Emas 2045 yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Reference

Akhtar, Z. B. (2026). Multimodal AI: PaLM-E’s Role in Vision–Language–Robotics & the Future of Efficient Fine-Tuning. Journal of Artificial Intelligence and Control Systems, 2(1), 28–44. https://doi.org/10.66967/jaics.2026.v2i103.

Mas’udi, W. (2026). Future-Proofing AI: Building Human-in-the-Loop Governance Skills for Rights-Respecting AI. FISIPOL UGM. www.fisipol.ugm.ac.id.

Selo. (2026). Dekan FT UGM Ungkap Lima Lapisan Teknologi yang Harus Dikuasai Indonesia. Masjid Kampus UGM. www.masjidkampusugm.ac.id

Karim, M. F., Rethel, L., Choiruzzad, S. A. B., & Winanti, P. S. (2026). Economic nationalism as a quest for liberation: The anti-colonial roots of Indonesian IPE and their persistence. https://doi.org/10.1080/09692290.2026.2681761

Nurhadi Susanto. (2024). Ungkap Ancaman AI dan Ketenagakerjaan: Kesiapan Pemerintah dalam Pelatihan ASN. FISIPOL UGM. www.fisipol.ugm.ac.id.

Priyanto, T., Hadna, A. H., Indrayanti, & Darwin, M. (2025). The impact of talent management towards digital leadership competencies through learning organization. Cogent Business & Management, 12(1). https://doi.org/10.1080/23311975.2025.2511281.

Putra, R. V. W., Marchisio, A., Zayer, F., Dias, J., & Shafique, M. (2024). Embodied neuromorphic artificial intelligence for robotics. Proceedings of ICARCV 2024, 612–619. https://doi.org/10.1109/ICARCV63323.2024.10821619.

Kementerian PPN/Bappenas. (2015). Indonesia 2045 Berdaulat, Maju, Adil, dan Makmur. Jakarta, Indonesia.

Tags: A.W. Purnomo Wigke Capri

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY