Penggunaan aplikasi kencan online untuk mencari jodoh sudah menjadi hal yang lumrah di era digital. Ia menawarkan ekstensi domain bagi mereka yang terlalu sibuk atau bahkan ‘terlalu malu’ untuk menginisiasi sebuah perkenalan. Bagi beberapa orang, pengalaman menggunakan aplikasi ini bak seperti sedang Ikan Mas yang paling proporsional untuk ukuran akuariumnya, atau seperti memilih model baju paling pas di situs belanja online ketika memasukkan kata kunci “dress wanita”. Potret-potret yang ter-swipe kiri atau kanan seolah-olah hanya representasi dari sebuah objek. Tak jarang kita bahkan lupa pada wajah dan nama mereka.
Arsip:
I Gusti Agung Ayu Brenda Yanti
Representasi karakter perempuan dalam video game menjadi salah satu topik yang menarik dalam bidang sosiologi, khususnya ketika berbicara di ranah humaniora digital. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Downs dan Smith pada tahun 2010 menganalisis game-game terlaris pada tahun 2003 di Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa hanya 14% dari semua karakter dalam game-game tersebut yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini menunjukkan kesenjangan gender yang signifikan dalam representasi karakter, yang menunjukkan bahwa karakter laki-laki cenderung mendominasi industri game.