Perubahan iklim semakin nyata dampaknya terhadap sektor pertanian di Indonesia, terutama melalui meningkatnya intensitas cuaca ekstrem seperti hujan lebat, banjir, dan longsor. Dampak ini tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga petani. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, 2025) menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan berdampak langsung pada wilayah pertanian. Artinya, krisis iklim bukan lagi isu lingkungan semata, tetapi telah menjadi persoalan penghidupan.
Di dataran tinggi Aceh, kondisi ini menjadi lebih kompleks karena tingginya ketergantungan masyarakat pada kopi Gayo. Kopi Gayo yang berasal dari Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi sumber utama pendapatan petani. Namun, banjir bandang dan longsor pada akhir 2025 telah merusak lebih dari 13 ribu hektare kebun kopi (The Aceh Post, 2026), dampaknya tidak berhenti pada hilangnya produksi. Petani kehilangan siklus panen, pendapatan tertunda, dan ketahanan ekonomi rumah tangga terguncang dalam jangka panjang.
Dalam kondisi krisis ini, penting untuk melihat siapa yang paling terdampak dan bagaimana dampak tersebut bekerja secara tidak merata. Perempuan memiliki peran signifikan dalam rantai produksi kopi, mulai dari perawatan tanaman, pemetikan, hingga pengolahan pascapanen. Namun, kontribusi tersebut sering kali tidak diiringi dengan akses terhadap aset produksi (lahan dan modal), maupun pengambilan keputusan terkait strategi penghidupan dan kerja pertanian (Pinem & Nurpazirah, 2025). Di sinilah perspektif interseksionalitas menjadi penting (Pinem, 2023), karena dampak bencana tidak dialami secara seragam, melainkan dipengaruhi oleh posisi sosial, jenis pekerjaan, serta akses terhadap aset produksi dan pengambilan keputusan.
Dampak Berlapis: Perempuan Petani dan Perempuan Rumah Tangga
Dampak jangka panjang dari bencana juga mempengaruhi keberlanjutan produksi. Tanaman kopi yang rusak membutuhkan waktu pemulihan sebelum kembali produktif, sehingga petani kehilangan potensi pendapatan pada musim berikutnya (Rising, 2024). Dalam konteks ini, untuk memahami dampak bencana secara lebih konkret, penting membedakan pengalaman perempuan dalam posisi yang berbeda. Perempuan yang terlibat langsung sebagai petani kopi menghadapi kerugian produksi sekaligus kehilangan pendapatan harian. Misalnya, ketika kebun rusak akibat banjir, mereka tidak hanya kehilangan hasil panen, tetapi juga pekerjaan rutin seperti memetik dan mengolah kopi. Karena sebagian besar dari mereka tidak memiliki kontrol atas lahan, mereka juga memiliki keterbatasan dalam menentukan upaya pemulihan.
Di sisi lain, perempuan yang tidak terlibat langsung dalam produksi, seperti ibu rumah tangga, menghadapi tekanan yang berbeda. Ketika pendapatan keluarga menurun akibat gagal panen, mereka harus menyesuaikan konsumsi, mengelola keuangan yang semakin terbatas, dan memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi. Dalam banyak kasus, mereka mulai mencari sumber pendapatan tambahan melalui usaha kecil atau pekerjaan informal. Namun, upaya ini sering dilakukan tanpa mengurangi beban domestik, sehingga menciptakan beban ganda (double burden). Perbedaan ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya soal kerusakan fisik pada lahan, tetapi juga memperbesar kerentanan yang sebelumnya sudah ada. Berdasarkan penelitian tentang perempuan pekerja perkebunan menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap aset produksi dan pengambilan keputusan turut memperkuat kerentanan mereka dalam sistem penghidupan berbasis pertanian (Pinem & Nurpazirah, 2025).
Di luar aspek sosial, faktor ekologis juga memperparah kondisi. Banjir di wilayah Gayo tidak dapat dilepaskan dari perubahan tata guna lahan di kawasan hulu. Alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan deforestasi mengurangi kemampuan daerah aliran sungai dalam menyerap air, sehingga meningkatkan risiko banjir (Suryatmojo, 2025). Ketika kondisi ini bertemu dengan intensitas hujan ekstrem akibat perubahan iklim global (IPCC, 2023), maka bencana menjadi semakin sulit dihindari. Ini menunjukkan bahwa krisis yang terjadi merupakan hasil interaksi antara faktor lokal dan global.
Namun demikian, perempuan tidak hanya hadir sebagai kelompok rentan. Mereka juga memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan sistem penghidupan berbasis pertanian (Pinem & Nurpazirah, 2025). Dalam praktik sehari-hari, perempuan memiliki pengetahuan tentang pengolahan hasil, pengelolaan pangan, hingga strategi bertahan dalam kondisi krisis. Misalnya, mereka mengatur distribusi hasil panen hingga menyimpan cadangan pangan. Pengetahuan ini menjadi bagian penting dari strategi adaptasi dalam menghadapi dampak perubahan iklim (Sa’diah et al., 2026)
Di sinilah konsep keadilan iklim atau climate justice menjadi relevan. Climate justice tidak hanya berbicara tentang memperbaiki lingkungan, tetapi juga memastikan bahwa kelompok yang paling terdampak memiliki akses terhadap aset produksi dan pengambilan keputusan. Dalam konteks kopi Gayo, ini berarti mengakui perempuan sebagai aktor utama dalam sistem sosial-ekologis, bukan sekadar pelengkap dalam rantai produksi. Pendekatan ini juga menuntut adanya perubahan dalam kebijakan dan program pemulihan pascabencana. Misalnya, pelatihan pertanian, akses pembiayaan, dan program adaptasi iklim perlu dirancang agar dapat diakses secara setara oleh perempuan.
Kesimpulan
Banjir yang melanda wilayah Gayo menunjukkan bahwa krisis iklim memiliki dampak yang kompleks dan berlapis. Kerusakan kebun kopi tidak hanya berarti hilangnya produksi, tetapi juga terganggunya sistem penghidupan yang melibatkan relasi sosial, ekonomi, dan ekologis. Dalam kondisi ini, perempuan mengalami dampak yang berbeda-beda tergantung pada posisi dan peran mereka. Melalui perspektif interseksionalitas, terlihat bahwa kerentanan perempuan tidak berdiri sendiri, tetapi dibentuk oleh keterbatasan akses terhadap aset produksi dan pengambilan keputusan yang tidak setara. Namun, perempuan juga memiliki pengetahuan yang berkontribusi pada ketahanan. Oleh karena itu, pendekatan climate justice menjadi penting untuk memastikan bahwa upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial. Dengan demikian, menjaga keberlanjutan kopi Gayo berarti tidak hanya melindungi komoditas ekonomi, tetapi juga mengakui dan memperkuat peran perempuan sebagai bagian penting dari sistem sosial-ekologis yang menopang kehidupan masyarakat.
Referensi
BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). (2025). Buletin Info Bencana Desember 2025. Jakarta: BNPB.
IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Chang). (2023). Climate change 2023: Synthesis Report. Geneva: IPCC.
Pinem, M. L. (2023). Applying an intersectionality approach to multiple dimensions of social life. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 12(2), 228-235.
Pinem, M. L., & Nurpazirah, P. (2025). Menyingkap Kekhasan Pengalaman Perempuan Pekerja Perkebunan. Journal of Social Development Studies, 5(2), 109-122.
Rising, J. (2024). Climate shocks and agricultural productivity: long-term impacts on perennial crops. Global Environmental Change, 84, 102782.
Sa’diah, H., Black, J., Pramadani, S., & Mupiza, B. (2026). Speaking through coffee: Lisu women, forests, and ecological communication in Northern Thailand. Development in Practice, 36(3), 412-425.
Suryatmojo, H. (2025). Antisipasi bencana banjir bandang: Interaksi deforestasi, tata ruang, dan kerentanan daerah aliran sungai di Indonesia. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/antisipasi-bencana-banjir-bandang-pakar-ugm-desak-reforestasi-dan-rehabilitasi-das/.
The Aceh Post. (2026). Bencana banjir dan longsor luluhlantakkan 13 ribu hektare kebun kopi Gayo. The Aceh Post. https://theacehpost.com/news/bencana-banjir-dan-longsor-luluhlantakkan-13-ribu-hektare-kebun-kopi-gayo/index.html